Kamis, 09 Juni 2011

:')


            Ketika bulan enggan memandangku, dan kerumunan air yang berhimpitan berlomba-lomba turun. Ketika itu pula aku enggan menghapuskan namamu, bersama deras air yang sedari tadi menetes tiada henti mengalir membasahi pelupukku yang kian hari kian sayu. Melupakanmu, ibaratkan membalik laut dan menumpahkannya di kawah. Melupakanmu, ibarat melukis langit menggunakan getah.
            Semakin aku berusaha membabat habis cerita kita, semakin hatiku tersayat sabitan yang ku lemparkan. Semakin aku berusaha menghilangkan namamu, semakin aku bermain dengan nostalgia masa laluku. Dan saat itu, aku ingin memelukmu, takdir ini membunuhku! Aku mencintaimu, dan tak pernah mau tau apa itu perbedaan. Perbedaan yang terus menerus menghukumku :’)

Aku mencintaimu


            Aku mencintaimu seperti aku mencintai bunga-bunga yang bermekaran di setiap pagi, tanpa pernah menunduk di sore hari. Aku merindukanmu, seperti uap yang terkungkung di awan, ia selalu ingin bercumbu dengan lautan lewat hujan. Aku mencintaimu seperti langit dan bumi yang selalu berjauhan. Aku mencintaimu, lewat isyarat tanpa tatapan. Yang mengabarimu lewat hening, dan mencumbuimu lewat angin. Aku hanya pengecut yang tak berani menentang takdir, jika harus menyakiti banyak hati. Aku hanya takut nantinya Tuhan murka, karena aku yang selalu memaksa takdir menyetujui cinta kita. Aku takut nantinya, aku semakin tak mampu melepaskanmu ketika cinta itu tumbuh dan bersemi dalam kurun tak terhingga, yang membuat dosa-dosa ini semakin mengiang di pikiran kita. Lupakanlah angan-angan, yang dahulu kita junjung tinggi. Lupakanlah berjuta mimpi, yang dulu kau arak bersamaku. Cintaku hanya asap, yang kau hirup kemudian menyakiti tubuhmu. Cintaku hanya asap, yang terbang menghilang ketika perbedaan meniupku kencang :’)

we're different :')


Perbedaan itu hanya akan indah ketika kau mengindahkannya, dan menakutkan ketika hatimu menakut-nakutimu.

            Tuhan, jika perbedaan ini menakutkan. Kenapa Kau ciptakan kami berbeda-beda? Kenapa kami harus terlahir dengan dua kasta yang selalu berperang? Kenapa kami harus mengenal dua cara berbeda hanya untuk menyembah-Mu? Yang hamba tau, Kau lah satu-satunya Tuhanku. Yang hamba tau, Muhammad lah utusan-Mu. Tapi mengapa yang dia tau berbeda? Kenapa yang dia yakini berbeda? Dan kenapa dulu, pernah Kau tumbuhkan bibit di hati kami, yang dengan leluasa terjaga tanpa pernah berpudar hingga saat ini. Tetapi perbedaan ini, memaksa bibit yang terjaga itu dibabat habis. Memisahkan aku dan dia, yang sudah terlanjur saling cinta. Memisahkan dua berbeda, yang sama-sama menentang takdirnya.

who's me?


Aku tak pernah berkeinginan menjadi seorang pengecut seperti saat ini. Siapa aku, cukup Tuhan dan aku yang tau. Aku cuma seorang perempuan plinplan yang tidak berpendirian. Berubah itu tak semudah mengucapkannya, siapa sih yang tidak ingin berubah menjadi lebih baik? Aku hanya butuh pendengar yang baik untuk mengurangi beban yang menghimpit otakku, makanya aku mencurahkan semuanya disini. Tanpa satu orang pun yang mengenal aku, tapi mau membaca tulisan-tulisanku.
Aku bahkan tidak mengenali jati diriku, ketika banyak mulut memaksaku menjadi orang lain. Ketika aku tidak mampu berkata ‘tidak’ kepada sepasang bola mata yang menatapku tajam, memaksaku melakukan apa yang enggan aku lakukan. Ketika aku tidak mampu berkata ‘iya’ kepada cengkraman yang menarikku menjauhi segala hal yang aku ingin lakukan. Ketika itu pula aku berubah menjadi aku yang lain, aku yang tidak kukenali.